Sabtu, 24 Oktober 2020
SIAPAKAH YANG BERHAK MENGHAKIMI HATI ORANG LAIN
MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI
Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat:
"Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."
Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah sanggup menjaganya di dalam kubur nanti
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."
Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya.
Dan beliau kembali bertanya, "Adik-adikku,
sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti?
Aku akan memberi setengah dari hartaku!"
Adik-adiknya pun menjawab, "Apakah engkau sudah gila Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.
Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se antero negeri.
Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana
Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah.
Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah semua perlengkapannya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.
Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.
Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.
Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat
Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya "Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.
Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.
Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut
Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya,
"Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.
Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi ngak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.
Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukuranya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.
Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir,
datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.
Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami
akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".
Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan
pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.
Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi.
Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya
"Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu."
Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan
dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini.
Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak?
Entah berapa lama dan bagaimana aku
menjawabnya."
Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW
bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnyad kemana dibelanjakannya,
ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang
menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari).
Sabtu, 22 Agustus 2020
BALON
Seorang guru yang bijaksana pernah membawa balon ke sekolah, menyuruh murid-muridnya untuk meniup dan menuliskan nama-nama mereka masing-masing di tiap balon.
Setelah anak-anak melemparkan balon mereka ke aula, guru itu bergerak ke aula untuk mencampur semuanya.
Anak-anak diberi waktu lima menit untuk menemukan balon dengan nama mereka di atasnya, tetapi meskipun mereka mencari dengan panik, tidak ada yang menemukan balon mereka sendiri.
Kemudian guru tersebut menyuruh mereka untuk mengambil balon yang paling dekat dengan mereka dan memberikannya kepada orang yang namanya tertera di atasnya. dalam waktu kurang dari dua menit, semua orang memegang balonnya sendiri.
Guru tersebut berkata kepada anak-anak ini, “Balon-balon ini seperti kebahagiaan.
Engkau tidak akan menemukannya ketika dirimu hanya mencari milikmu sendiri. tapi jika kita peduli dengan memberi kebahagiaan orang lain. itu pada akhirnya akan membantu kita menemukan kebahagiaan kita sendiri.
Bahagia itu sederhana, perlakukan orang lain seperti Kita ingin diperlakukan.
Telinga diciptakan untuk lebih banyak mendengar ,Mulut di ciptakan Tuhan untuk lebih berkata-kata lembut, memberi semangat, menghibur, memuji, memaafkan. hindari dari berucap kata-kata yang kasar, keras, menghina, Dan intimidasi yang bisa melukai orang-orang terdekat dan sekitar anda....
Salam sukses berkelimpahan untuk kita semua..Aamiin YRA.
Kamis, 20 Agustus 2020
Keistimewaan Muharram
Khutbah Jumat:
Keistimewaan Muharram dan Hikmah Hijrah
Khutbah I اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ، تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ، وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْاِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ الْمَلِكُ الْغَفَّارْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ فِيْ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ . إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. Saudara-saudara Kaum Muslimin, jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah, Bulan Muharram adalah satu di antara bulan-bulan yang mulia (al-asyhur al-hurum), yang diharamkan berperang di bulan ini. Ia dipandang bulan yang utama setelah bulan Ramadhan. Oleh karenanya, kita disunnahkan berpuasa terutama pada hari ‘Asyura, yakni menurut pendapat mayoritas ulama, tanggal 10 Muharram. Di antara fadhilah bulan Muharram, adalah ia dipilih oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai momen pengampunan umat Islam dari dosa dan kesalahan. Keistimewaan bulan Muharram ini lebih lanjut karena dipilih sebagai awal tahun dalam kalender Islam. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mengulas kembali sejarah tahun baru Hijriah, yakni sejarah penanggalan atau penetapan kalender Islam, yang diawali dengan 1 Muharram. Mengapa para sahabat memilih bulan Muharram sebagai awal penanggalan Islam?
Dalam kitab Shahih al-Bukhari, pada kitab Manâqib al-Anshâr (biografi orang-orang Anshar) pada Bab Sejarah Memulai Penanggalan, disebutkan, عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ مَا عَدُّوْا مِنْ مَبْعَثِ النَّبِيِّ ﷺ وَلَا مِنْ وَفَاتِهِ مَا عَدُّوْا إِلَّا مِنْ مَقْدَمِهِ الْمَدِينَةَ.
“Dari Sahl bin Sa’d ia berkata: mereka (para sahabat) tidak menghitung (menjadikan penanggalan) mulai dari masa terutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau, mereka menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah”.
Hal itu dilakukan meskipun tidak diketahui bulan kehadirannya itu, karena sejarah itu sebenarnya merupakan awal tahun. Sebagian sahabat berkata pada ‘Umar, ”Mulailah penanggalan itu dengan masa kenabian”; sebagian berkata: ”Mulailah penanggalan itu dengan waktu hijrahnya Nabi”. ‘Umar berkata, ”Hijrah itu memisahkan antara yang hak (kebenaran) dan yang batil, oleh karena itu jadikanlah hijrah itu untuk menandai kalender awal tahun Hijriah”.
Ma’âsyiral muslimîn hafidhakumullâh, Setelah para sahabat sepakat mengenai peristiwa hijrah dijadikan sebagai awal penanggalan Islam, ada sebagian sahabat yang berpendapat bahwa untuk awal bulan Hijriyah itu: ”Mulailah dengan bulan Ramadhan”, tetapi ‘Umar radliyallahu 'anh berpendapat: ”Mulailah dengan Muharram”, itu karena Muharram merupakan masa selesainya umat Islam dari menunaikan hajinya. Lalu disepakatilah tahun baru hijriah itu dimulai dengan bulan Muharram. Ibn Hajar dalam kitab Fath al-Bârî Syarah Kitab Shahîh al-Bukhârî mengatakan bahwa: "Sebagian sahabat menghendaki awal tahun baru Islam itu dimulai dengan hijrahnya Nabi, itu sudah tepat. Ia melanjutkan, ada empat hal atau pendapat yang mungkin dapat dijadikan sebagai awal penanggalan Islam, yaitu masa kelahiran Nabi (maulid al-Nabi), masa diutusnya Nabi, masa hijrahnya Nabi, dan masa wafatnya Nabi. Tetapi pendapat yang diunggulkan adalah menjadikan awal tahun baru itu dimulai dengan hijrah karena masa maulid dan masa kenabian itu keduanya tidaklah terlepas dari kontradiksi atau pertentangan pendapat dalam menentukan tahun. Adapun waktu wafatnya beliau itu, banyak tidak dikehendaki oleh para sahabat untuk dijadikan sebagai awal tahun, karena mengingat masa wafatnya Nabi justru menjadikan kesedihan bagi umat. Jadi kemudian pendapat dan pilihan itu jatuh pada peristiwa hijrah. Kemudian mengenai tidak dipilihnya bulan Rabiul Awal sebagai awal tahun tetapi justru dipilih bulan Muharram sebagai awal tahun karena awal komitmen berhijrah itu ada pada bulan Muharram, sehingga cocoklah hilal atau awal bulan Muharram itu dijadikan sebagai awal tahun baru Islam.”
Ma’âsyiral muslimîn hafidhakumullâh, Menurut satu pendapat, ada banyak hikmah dipilihnya peristiwa hijrah sebagai penanda Kalender Islam, Tahun Baru Hijriah. Di antaranya adalah dengan peristiwa hijrah itu, umat Islam mengalami pergeseran dan peralihan status: dari umat yang lemah kepada umat yang kuat; dari perceraiberaian atau perpecahan kepada kesatuan negara; dari siksaan yang dihadapi mereka dalam mempertahankan agama kepada dakwah dengan hikmah dan penyebaran agama; dari ketakutan disertai dengan kesukaran kepada kekuatan dan pertolongan yang menenteramkan; dan dari kesamaran kepada keterang-benderangan. Di samping itu, dengan adanya hijrah itu terjadi peristiwa sungguh penting antara lain, perang Badar, Uhud, Khandaq dan Perjanjian Hudaibiyah (Shulh al-Hudaibiyah), dan setelah 8 (delapan) tahun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hijrah di Madinah, beliau kembali ke Makkah al-Mukarramah dengan membawa kemenangan yang dikenal dengan Fath Makkah. Itulah peristiwa-peristiwa yang penting kita ingat. Oleh karena itulah, Al-Quran menjadikan hijrah itu sebagai sebuah pertolongan. Al-Quran mengingatkan kita: إِلَّۗا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُوْلُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَاۖ فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلَٰىۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ.
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: ”Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa Mahabijaksana” (QS. Al-Taubah [9]: 40). Allah pun telah memuji orang-orang yang berhijrah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. setelah hari kemenangan Fath Makkah bersabda: لاَ هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوْا (مُتَّفّقٌ عَلَيْه). وَمَعْنَاهُ:لاَ هِجْرَةَ مِنْ مَكَّةَ لِأَنَّهَا صَارَتْ دَارَ إِسْلاَمٍ.
”Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah, akan tetapi jihad dan niat, dan jika kalian diminta untuk pergi berjihad maka pergilah” (Muttafaq ‘alaih dari jalur ‘Aisyah radliyallahu ‘anha) Maknanya: Tidak ada hijrah dari Makkah karena dia telah menjadi negeri Islam. Hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M., bukanlah sekadar peristiwa dalam sejarah Islam, tetapi banyak petuah dan pelajaran berharga bagi kita, yang terpenting di antaranya adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika keluar dari Makkah berhijrah menuju Madinah itu tidaklah dalam keadaan membenci penduduk Makkah, justru beliau cinta kepada penduduk Makkah. Oleh karena itu ketika beliau keluar meninggalkan Makkah beliau berkata: وَاللهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللهِ إِلَى اللهِ، وَلَوْلَا أَنِّيْ أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ (رواه الترميذي والنسائي عن عبد الله بن عدي بن حمراء رضي الله عنه) Artinya ”Demi Allah, sungguh kamu (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi Allah yang paling dicintai Allah, seandainya aku tidak dikeluarkan darimu (Makkah) maka tiadalah aku keluar --darimu.” (HR. al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Mâjah dll, dari ‘Abdullâh bin ‘Addî bin Hamrâ’ radliyallahu ‘anhum). Ini menunjukkan betapa kecintaan beliau kepada Makkah dan penduduk Makkah, sebagaimana maqalah populer menyatakan hubbul wathan minal iman, cinta tanah air adalah ekspresi kesempurnaan iman. Dan satu hal yang penting dalam hijrah adalah bahwa hijrah itu adalah bermakna luas, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mulia bahwa: وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ (رواه البخاري)
Artinya: ”Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah” (HR. al-Bukhârî). Hijrah di sini bermakna luas, meninggalkan adat atau tradisi fanatisme kesukuan, dan menegaskan hijrah itu meninggalkan dari segala yang dilarang oleh Allah dan yang di dalamnya membahayakan manusia.
Ma’âsyiral muslimîn hafidhakumullâh, Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diambil kesimpulan berkaitan dengan memuliakan bulan Muharram dan memperingati tahun baru Hijrah. Bahwa dalam memuliakan dan memperingati tahun baru Hijriah harus memperhatikan hikmah atau pelajaran yang berharga dari peristiwa hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, yang dapat disebutkan dalam tujuh poin penting berikut ini:
1. Hijrah itu adalah perpindahan dari keadaan yang kurang mendukung dakwah kepada keadaan yang mendukung.
2. Hijrah itu adalah perjuangan untuk suatu tujuan yang mulia, karenanya memerlukan kesabaran dan pengorbanan.
3. Hijrah itu adalah ibadah, karenanya motivasi atau niat adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.
4. Hijrah itu harus untuk persatuan dan kesatuan, bukan perpecahan.
5. Hijrah itu adalah jalan untuk mencapai kemenangan.
6. Hijrah itu mendatangkan rezeki dan rahmat Allah.
7. Hijrah itu adalah teladan Nabi dan para sahabat yang mulia, yang seyogianya kita ikuti. Kaum muslimin yang dikasihi Allah, Demikianlah keistimewaan bulan Muharram dan poin-poin penting dari hikmah hijrah. Sebagai penutup khutbah ini, marilah kita renungkan firman Allah dalam surat al-Anfâl (8) ayat 74: وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَالَّذِيْنَ اٰوَوْا وَنَصَرُوْاۧ أُوْلَٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيْمٌ.
Artinya: Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. Demikian khutbah ini semoga bermanfaat. Semoga kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan bangsa kita Indonesia, dapat berhijrah kepada kebaikan dan kemuliaan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
نَحْمَدُ اللهَ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ، وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِٰلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةْ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ النَّهْضَةْ . أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهَا النَّاسُ! أُوْصِيْكُمْ بتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَأٰمِرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا إِبْراهَيْمَ فِي الْعٰلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.... اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمْؤُمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحاَجاَتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الِإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الِإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا أتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّءْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا أتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهْ! إِنَّ اللهَ يَعْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاۤءِ ذِي اْلقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ اْلفَخْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمٍ يَّزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Ustadz Ahmad Ali MD, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/110353/khutbah-jumat--keistimewaan-muharram-dan-hikmah-hijrah-
Selasa, 11 Agustus 2020
KETIKA SAWAH TAK LAGI MENGHIDUPI PEMILIKNYA
Suatu hari, ada seorang petani yang duduk dipinggiran pematang dekat sawahnya sambil meneguk segelas teh yang sudah dingin. Sambil memandang tanaman padi miliknya, dia memandang dengan tatap kosong dan raut muka muram.
Saya menghampiri beliau dan menyapanya, dia tersentak kaget, mungkin tidak menyadari kehadiran saya yang tiba tiba atau mungkin dia lagi fokus memikirkan nasib tanamannya.
Dia akhirnya mempersilahkan saya duduk disampingnya, sambil menuangkan segelas teh dan mempersilahkan untuk minum.
Saya coba memulai menayakan kenapa koq kelihatan murung, sambil menyebulkan sebatang rokok yang hampir habis ke udara dia bercerita.
Akhir tahun 2019 dia menanam padi ¼ bau (ukuran luas tanah) seperti biasanya dia berharap sekitar bulan Maret akan memetik hasil yang memuaskan untuk kelangsungan hidup keluarganya. Dia mengungkapkan kegagalan panen bulan maret yang lalu, tak disangka setelah satu minggu tanam terjadilah banjir yang menggenangi sawahnya selama 4 hari semua benih padinya lenyap terbawa banjir padahal untuk sekali masa tanam sampai dengan panen dibutuhkan biaya operasional sekitar 7,2 juta/ha.
Dia pun tidak putus asa kembali menanami sawahnya dan pada bulan januari terjadi lagi banjir yang menggenangi sawahnya untungnya padi sudah berumur 3 minggu sehingga tidak banyak yang hanyut ataupun mati, dia dengan sabar merawat padinya hari demi hari sampai waktu panen kisaran bulan maret, awal masa pandemi covid 19 heboh dimedia massa maupun media sosial.
Dia pun bingung hasil panen padinya tidak ada yang mau menawar dengan harga tinggi di masa pandemi ini, harga Gabah Kering Panen (GKP) dimasa itu hanya kisaran Rp. 4000/kg atau turun 4,65 persen dari biasanya. Rata rata para bakul hanya mau menawar kisaran Rp. 3500 sampai Rp 3800 itupun kalau panennya bagus apalagi para bakul beralasan dimasa pandemi tenaga untuk panen mahal untuk sawah ukuran ¼ Bau paling tidak biaya operasional panen hampir Rp. 900.000,-, banyak yang bilang “kan sudah ada bantuan Alat Combain” iya memang alat tersebut dapat memangkas biaya hampir sepertiganya, tapi lihat kondisi lapangan combain hanya bisa digunakan apabila kondisi tanah kering, kalau basah ya tidak jalan tandasnya.
Dia pun menghitung hasil panennya, dari sawah yang ditanami hanya menghasilkan GKP sebesar ( ¼ X 0,7 ha = ¼ bau ) = 1,5 ton GKP (hasil ubinan), 1,5 x Rp 3.500,- = Rp. 5.250.000,- dikurangi biaya opersional ¼ x Rp. 7.200.000,- = Rp 1.800.000,- jadi hanya dapat hasil panen Rp. 5.250.000,- - Rp. 1.800.000,- = Rp. 3.450.000,- dibagi 4 bulan = hanya Rp. 862.500,-/bulan itulah yang dipaparkan petani.
Dikala masyarakat berebut minta datanya masuk dalam penerima bantuan sosial akibat pandemi Covid 19, beliau tidak menghiraukan dan hanya merenungi dari tahun ke tahun produktivitas padi semaikn menurun.
Namun beliau tidak patah semangat, melanjutkan bercocok tanam lagi pada akhir bulan April dengan harapan dapat hasil yang lebih baik 4 bulan kedepan dengan hirukpikuknya wabah Covid 19, masa new normal dan sebagainya dia tidak patah semangat, namun Tuhan berkehendak lain, bulan agustus 2020 terjadilah wabah wereng yang menyerang tanaman padi, walaupun sudah mendapat bantuan obat untuk menangani namun masih saja tidak bisa diselamatkan semua, dia berasumsi saya dapat 50 persen dari hasil panen itu sudah hebat tandasnya.
Akhirnya beliau merenung dengan penghasilan bercocok tanam semakin tidak menentu hasilnya, pas kebetulan ada seseorang yang berprofesi sebagai pengembang perumahan dan menawarkan sawanya dijual untuk perumahan dengan harga tinggi, dia musyawarah dengan keluarganya tentang tawaran tersebut, alhasil akhirnya sawahnya dijual untuk pengembang dan beliu berusaha beralih keprofesi lain dengan modal hasil sawah yang dijual dengan harapan lebih baik daripada bertani.
Munculah persoalan baru di pengembang dengan mengurug sawah untuk perumahan, tiba2 banyak orang yang menjustice pengurugan sawah tidak sesuai dengan aturan dan sebagainya. Inilah sebenarnya akar masalahnya, sebuah dilema baru “ KETIKA SAWAH TAK LAGI MENHIDUPI PETANI DAN BERUBAHNYA STATUS ALIH FUNGSI LAHAN DARI PERTANIAN MENJADI PERUMAHAN”
Salah satu PR besar untuk memecahkan dilema ini, mudah2an kedepan akan terpecahkan.
Wallahu’alam bi showab.
Kamis, 06 Agustus 2020
SAKIT YANG TIDAK KUNJUNG SEMBUH
SAKIT YANG TIDAK KUNJUNG SEMBUH OBATNYA SEDEKAH
Seiring dengan bertambahnya jenis penyakit yang mendera kehidupan seperti sekarang ini,perbincangan masalah pengobatan cukuplah menarik untuk disimak.
Setiap manusia pernah mengalami sakit, baik itu sakit ringan ataupun berat, bahkan Rasulullah SAW juga menjelang wafatnya mengalami sakit. Ini sudah menjadi sunatullah dalam kehidupan. Islam mengajarkan kepada kita bahwa apapun sakit yang kita derita harus berusaha untuk melakukan pengobatan, berbagai bentuk ikhtiyar yang dilakukan secara islami tidak berarti kita tidak percaya kepada Allah, justru merupakan bentuk kepercayaan yang tinggi kepada Allah SWT. Karena penyakit adalah merupakan ujian kesabaran dan ketaqwaan, maka ikhtiar pengobatan akan mendapat pahala tersendiri dari Allah SWT.
Terdapat dua keniscayaan mutlak milik Allah SWT.yang sebenarnya tidak akan mampu di pungkiri oleh semua makhluk.Manusia pun begitu lemah untuk”menggugat” keniscayaan itu.Hanya manusia yang error imannya,yang tidak memahami masalah ini.
Pertama,bahwa Allah telah menurunkan penyakit,dan Dia bersama itu juga menurunkan obatnya.Allah akan memberikan kesembuhan kepada orang yang di kehendaki-Nya.Allah akan meletakkan obat sebagai sarana kesembuhan itu dimana saja yang Dia kehendaki.Mungkin saja obat itu ada pada obat-obat kimiawi,atau di dalam jamu-jamu tradisional,dan lain sebgainya.Termasuk juga,sangat mungkin sekali jika Allah berkehendak meletakkan obat bagi penyakit itu berada dalam amalan ibadah,seperti sedekah.Dan,tak ada kekuatan makhluk manapun di muka bumi ini yang mampu menentang kehendah Allah.
Kedua,tatkala Allah menghendaki sesuatu,Dia hanya berfirman”Jadilah”,maka terjadilah sesuatu itu.Dalam menyembuhkan berbagai penyakit yang di derita manusia Allah juga cukup berfirman,”Sembuhlah”,maka menjadi sembuhlah penyakit kita.Sangat mudah bagi Allah untuk melakukan semua ini,walaupun mungkin kita yang sakit telah melanglang buana dalam waktu yang panjang untuk mendapatkan obat bagi penyakit kita.Penyakit kita belum sembuh,karena pada hakekatnya Allah belum berfirman”sembuhlah”,yang benar benar sembuh penyakit kita.
Ada berbagai cara pengobatan yang diajurkan dalam islam yaitu dengan mendatangi dokter untuk berobat, berbekam, minum madu atau minum habasauda. Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan kembali bahwa ada salah satu cara berobat yang dianjurkan Rosulullah SAW yang sering kali dilupakan yaitu dengan cara” bersedekah”,
ingatlah akan hadist Rasululllah yang berbunyi:
“‘Obatilah penyakitmu dengan sedekah.”atau hadist yang lain berbunyi ”Perbanyaklah sedekah. Sebab, sedekah bisa memanjangkan umur.”
…“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi)
“Ujian yang menimpa seseorang pada keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya bisa dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, dan amar makruf nahi munkar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari hadist ini kita diajarkan oleh Rasulullah untuk mencari pengobatan atau penyakit yang dialami dengan bersedekah secara iklas dijalan Allah. Karenanya wahai saudaraku apapun penyakit yang sedang dialami jangan lupa untuk meminta kesembuhan kepada Allah SWT salah satunya dengan bersedekah secara iklas, bila perlu dengan berdoa ya Allah aku bersedekah ini untuk penyembuhan penyakitku, atau untuk penyembuhan penyakit kedua orang tuaku, atau penyembuhan anakku.
Mari kita simak sebuah kisah keajaiban sedekah dalam menyembuhkan penyakit yang di ceritakan di dalam kitab Sshahihul Targhib wat Tarhib 964 M dari Imam Baihaqi,bahwa ia berkata,”ada kisah Syaikh hakim Abi’Abdillah,bahwa ia memiliki bisul di wajah dan telah di obati dengan berbagai macam obat,tetapi tak kunjung sembuh juga,sudah hampir satu tahun lamanya bisul tersebut menghinggapi wajahnya.Kemudian ia meminta kepada Ustadz Imam Abu’Usman Ash-Shobuni untuk mendoakannya di amini oleh banyak orang.Pada jumat berikutnyan ada seorang wanita yang menyampaikan selembaran surat yang mengatakan bahwa sesampainya di rumah,ia kemudian bersungguh-sungguh dalam mendoakan Hakim Abu ‘Abdillah pada malam harinya.Lalu dalam tidurnya,ia bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW yang seakan-akan bersabda kepadanya,” Katakan kepada Abu’Abdillah agar melapangkan air bagi kaum muslimin.”Kemudian aku membawa surat tersebut kepada hakim.Lalu hakim memerintahkan agar membuat galian di depan pintu rumahnya.Setelah galian tersebut selesai di kerjakan,beliau memerintahkan agar memenuhi galian tersebut dengan air dan kerikil.Orang-orangpun mulai mengambil air tersebut untuk minum.Tidak sampai satu pekan,tanda-tanda kesembuhan telah nampak pada Abu’Abdillah.Maka wajahnya telah kembali tampan seperti sedia kala.Setelah peristiwa itu beliau maish hidup selama beberapa tahunDari kisah ini kita sampai suatu ketika datanglah secercah harapan dan terbukalah pintu solusi,betapa sedekah bermanfaat besar untuk penyembuhan berbagai macam penyakit.
Terakhir saya berdoa semoga siapapun yang membaca tulisan sederhana ini setelahnya kemudian menjadi rajin bersedekah, dan siapapun yang bersedekah tersebut maka semoga akan diangkat penyakitnya oleh Allah, akan dilapangkan rejekinya, akan di panjangkan umurnya dalam barokah, akan dilekuarkan dari kesulitan hidup, akan diberikan kesabaran dan kekuatan dalam ujian hidup serta dijadikan bahagia dunia akherat. amien
Oleh: Toungat
Dosen STAI Darul Arafah –Laubakeri Deliserdang Sumatera Utara









